Sunday, May 26, 2019

(PDF) STUDI POTENSI ENERGI GEOTHERMAL BLAWAN- IJEN, JAWA TIMUR BERDASARKAN METODE GRAVITY

Penelitian ini merupakan studi awal untuk menentukan daerah yang memiliki potensi panasbumi berdasarkan pengukuran gayaberat di Blawan-Ijen, Jawa Timur. Pengukuran data primer dilakukan dengan menggunakan Gravitimeter LaCoste & Romberg tipe G-1053. Data anomali Bouger dari hasil perhitungan koreksi-koreksi metode gayaberat kemudian dibawa ke bidang datar selanjutnya dilakukan pemisahan anomali regional dan anomali sisa dengan menggunakan metode kontinuasi ke atas. Hasil interpretasi terhadap anomali sisa yang dilakukan pada tiga penampang adalah penampang A-A’ nilai densitasnya yaitu: ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.80 gr/cm3 , ρ3=2.67 gr/cm3, dan ρ4=2.69 gr/cm3, sedangkan untuk

penampang B-B’ nilai densitasnya adalah ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.82 gr/cm3, ρ3=2.67 gr/cm3, dan

untuk penampang C-C’ nilai densitasnya yaitu ρ1=2.585 gr/cm3, ρ2=2.82 gr/cm3, ρ3=2.67 gr/cm3 dan ρ4=2.684 gr/cm3. Dari hasil pemodelan 2D dan 3D dapat terlihat bahwa pada daerah

yang memiliki manifestasi air panas didominasi oleh batuan ρ1 karena memiliki nilai densitas paling rendah yang berada pada daerah Blawan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa reservoir

panasbumi daerah Blawan-Ijen didominasi oleh batuan yang memiliki porositas tinggi (densitas rendah) dan tingkat permeabilitasnya tinggi dengan jumlah volume sebesar 101.20 juta m3.

Gambar 3.Kontur Anomali Bouger Lengkap Setelah Direduksi

31

STUDI POTENSI ENERGI GEOTHERMAL BLAWAN-

IJEN, JAWA TIMUR BERDASARKAN METODE

GRAVITY

Oleh:

Raehanayati

, Arief Rachmansyah

dan Sukir Maryanto

ABSTRAK: Penelitian ini merupakan studi awal untuk menentukan daerah yang memiliki

potensi panasbumi berdasarkan pengukuran gayaberat di Blawan-Ijen, Jawa Timur.

Pengukuran data primer dilakukan dengan menggunakan Gravitimeter LaCoste & Romberg

tipe G-1053. Data anomali Bouger dari hasil perhitungan koreksi-koreksi metode gayaberat

kemudian dibawa ke bidang datar selanjutnya dilakukan pemisahan anomali regional dan

anomali sisa dengan menggunakan metode kontinuasi ke atas. Hasil interpretasi terhadap

anomali sisa yang dilakukan pada tiga penampang adalah penampang A-A’ nilai densitasnya

yaitu: ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.80 gr/cm3 , ρ3=2.67 gr/cm3, dan ρ4=2.69 gr/cm3, sedangkan untuk

penampang B-B’ nilai densitasnya adalah ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.82 gr/cm3, ρ3=2.67 gr/cm3, dan

untuk penampang C-C’ nilai densitasnya yaitu ρ1=2.585 gr/cm3, ρ2=2.82 gr/cm3, ρ3=2.67

gr/cm3 dan ρ4=2.684 gr/cm3. Dari hasil pemodelan 2D dan 3D dapat terlihat bahwa pada daerah

yang memiliki manifestasi air panas didominasi oleh batuan ρ1 karena memiliki nilai densitas

paling rendah yang berada pada daerah Blawan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa reservoir

panasbumi daerah Blawan-Ijen didominasi oleh batuan yang memiliki porositas tinggi

(densitas rendah) dan tingkat permeabilitasnya tinggi dengan jumlah volume sebesar 101.20

juta m3.

Kata Kunci: Geothermal, Gravity, dan Blawan-Ijen

ABSTRACT: This research is a reconnaissance study to know determine areas that have the

potential of geothermal energy by measuring gravity at Blawan-Ijen, East Java. Measurement

of primary data uses Gravitimeter Lacoste & Romberg G-1053 type. Bouguer anomaly is

projected to flat plane and upward continuation is used to separate the regional and residual

anomaly. Results residual anomaly interpretation of the cross-section was performed on three

cross sections A-A’, B-B’ and section C-C’ shows that the density values are: for cross-section

A-A’ is (ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.80 gr/cm3 , ρ3=2.67 gr/cm3, dan ρ4=2.69 gr/cm3), section B-B’

(ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.82 gr/cm3, ρ3=2.67 gr/cm3) and section C-C’ (ρ1=2.585 gr/cm3, ρ2=2.82

gr/cm3, ρ3=2.67 gr/cm3 and ρ4=2.684 gr/cm3). From the 2D and 3D modeling results can be

seen that in areas that have hot water manifestations are dominated by rock ρ1 that is in the

region Blawan. It can be concluded that the geothermal reservoir Blawan-Ijen area is

dominated by a rock that has a high porosity (low density) and high permeability levels with a

total volume of 101.20 million m3.

Key Word: Geothermal, Gravity, and Blawan-Ijen

PENDAHULUAN

Energi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, karena dengan energi

manusia dapat melakukan banyak hal. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk di

Indonesia, maka kebutuhan energi juga semakin meningkat. Saat ini sebagian besar

kebutuhan Indonesia dipenuhi dari bahan bakar fosil (migas dan batubara). Untuk dapat

Program Pasca Sarjana Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Brawijaya

(email:nanalaponk_89@yaho.com)

Jurusan Teknik Sipil, FT, Universitas Brawijaya

Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Brawijaya






32 Jurnal Neutrino Vol. 6, No. 1 Oktober 2013

memenuhi kebutuhan energi di masa mendatang, pemerintah mengembangkan beberapa

sumber energi alternatif, salah satunya adalah panasbumi atau geothermal [11].

Salah satu daerah yang diprediksi terdapat potensi geothermal adalah Blawan,

Bodowoso yang terletak di Kompleks Gunung Ijen, Jawa Timur. Keberadaan pansbumi di

lokasi ini ditandai oleh keberadaan mata air panas yang tersebar di bagian utara.

Gunungapi Ijen merupakan salah satu gunungapi Kuarter yang memiliki aktivitas sedang

sampai tinggi dan banyak solfatara dengan suhu mencapai 200oC. Gunungapi ini dikenal,

karena pembentukan endapan belerang yang tebal di bibir kawahnya. Dalam sejarah

letusannya Gunung Ijen pernah mengalami letusan sangat besar, sehingga terbentuk

kaldera dengan diameter hampir 5 km. Di bagian utara Gunung Ijen (Blawan) terdapat

batuan tua seperti breksi (breccia), lava dan basaltik-tuf. Bagian dalam kaldera didominasi

oleh batuan muda akibat aktivitas gunung Ijen yaitu tuf, breksi (breccia) dan lava [6].

Metode gravity adalah suatu metode penyelidikan geofisika yang berdasarkan pada

perbedaan medan gravity akibat perbedaan rapat massa batuan penyusun bawah

permukaan bumi. Besaran fisis yang diukur dalam metode gravity adalah percepatan

gravitasi bumi. Data percepatan gravity yang didapat selama pengukuran diolah menjadi

anomali percepatan gravitasi bumi. Dari hasil pengolahan data tersebut dapat diketahui

perbedaan rapat massa batuan, sehingga data tersebut dapat digunakan untuk menentukan

struktur geologi bawah permukaan yang mengandung potensi energi geothermal di daerah

penelitian [9].

Metode ini memiliki suatu kelebihan untuk survei awal yang dapat memberikan

informasi yang cukup detail tentang struktur geologi dan kontras densitas batuan. Pada

kasus geothermal perbedaan densitas batuan merupakan acuan dalam penyelidikan metode

gravitasi. Dimana, daerah sumber panas di bawah permukaan bumi dapat menyebabkan

perbedaan densitas dengan massa batuan disekitarnya [3].

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui posisi dan volume reservoir panas bumi

berdasarkan hasil survei gravity. Metode gravity ini akan merekam kontras densitas antara

reservoir dengan batuan sekitarnya, dan bentuk reservoir panasbumi. Karena suhu yang

tinggi dan porositas tinggi, batuan reservoir panas bumi diinterpretasikan dari masa dengan

densitas rendah. Penggunaan metode gravity dalam menganalisa densitas batuan dianggap

tepat karena metode gravity memiliki respon yang sangat baik terhadap perbedaan densitas

batuan di bawah permukaan. Dengan mengolah dan menginterpretasikan data kontras

anomali Bouger maka dapat digunakan untuk memperkirakan struktur anomali densitas

bawah permukaan yang diharapkan dapat memberi gambaran mengenai struktur bawah

permukaan dan kondisi potensi geothermal di Blawan-Ijen.

Pengambilan data gravity dilakukan pada bulan Maret 2013 dengan menggunakan

Gravitymeter LaCoste & Romberg tipe G-1053, penentuan lokasi dan ketinggian titik

pengamatan menggunakan GPS Garmin eTrex H. Sebelum melakukan pengukuran,

terlebih dahulu dilakukan survey pendahuluan untuk mengetahui medan menentukan titik-

titik pengukuran. Tahap selanjutnya adalah melakukan kalibrasi alat dan menentukan titik

acuan (base station). Lokasi titik acuan harus tempat yang stabil atau mudah dijangkau.

Penentuan titik acuan sangat penting, karena pengambilan data lapangan harus dilakukan

secara looping, yaitu dimulai dari titik acuan yang telah ditentukan, dan berakhir pada titik





Jurnal Neutrino Vol. 6, No. 1 Oktober 2013 33

tersebut. Titik acuan perlu diikatkan terlebih dahulu pada titik ikat yang sudah diketahui

nilai mutlaknya.

Data medan gayaberat terukur selanjutnya dilakukan pengolahan dengan tahapan

konversi data kedalam satuan gayaberat yaitu miliGal. koreksi pasang surut, koreksi drift,

perhitungan gayaberat observasi, koreksi gayaberat normal, koreksi udara bebas, koreksi

Bouger dan koreksi medan. Hasil dari pengolahan data gayaberat dari koreksi-koreksi

tersebut merupakan nilai anomali Bouger lengkap. Nilai anomali Bouger lengkap ini masih

berada pada topografi, sehingga perlu untuk memproyeksikan anomali Bouger tersebut ke

bidang datar guna mempermudah dalam melakukan interpretasi data hasil pengolahan [12].

Selanjutnya nilai anomali yang terpapar di bidang datar dilakukan pemisahan anomali

regional dan anomali sisa dengan menggunakan metode kontinuasi keatas (Upward

Continuatian), kemudian dilakukan pemodelan dari anomali sisa. Pemodelan dilakukan

berdasarkan interpretasi kualitatif dan informasi pendukung lainnya seperti peta geologi,

peta topografi dan stratigrafi daerah penelitian sehingga hasil pemodelan yang diperoleh

sesuai dengan yang diharapkan. Lintasan survei gravity dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Desain Survei Daerah Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengolahan data gravity di daerah Blawan Ijen diperoleh hasil penggambaran

pola anomali Bouger (Gambar 2.) Anomali Bouger merupakan selisih antara harga

gayaberat pengukuran yang telah direduksi ke bidang referensi ukuran (geoid) dengan

harga gayaberat teoritis pada bidang referensi hitungan tertentu di suatu titik.

Gambar 2. Penggambaran Kontur Anomali Bouger





34 Jurnal Neutrino Vol. 6, No. 1 Oktober 2013

Gambar 2 menunjukkan anomali Bouger daerah penelitian memiliki angka antara 88

sampai 144 mGal. Nilai anomali rendah berada di sebelah barat dan barat laut dari

manifestasi air panas. Anomali tinggi berada di sebelah timur kawah ijen dan timur laut

manifestasi air panas. Kontras densitas tinggi menunjukkan terdapat rekahan pada daerah

tersebut. Sejalan dengan rekahan, terdapat deretan manifestasi air panas. Hal ini dapat

terjadi karena pada daerah rekahan, air tanah yang telah terpanaskan dapat naik ke

permukaan tanah melalui celah-celah batuan akibat rekahan tersebut.

Reduksi Bidang Datar

Untuk mempermudah interpretasi, data anomali Bouger lengkap yang berada pada

topografi diproyeksikan ke bidang datar terlebih dahulu. Reduksi ke bidang datar perlu

dilakukan karena nilai anomali Bougur yang sudah terkoreksi merupakan nilai yang masih

terpapar pada topografi, yaitu terletak pada titik-titik yang tidak teratur dengan ketinggian

yang bervariasi. Hal ini dapat menimbulkan kesulitan dalam melakukan interpretasi. Di

bawah ini adalah kontur anomali bouger lengkap yang telah direduksi ke bidang datar

seperti yang terlihat pada Gambar 3.

Pemisahan Anomali Bouger Lengkap Dengan Kontinuasi Ke Atas

Untuk menafsirkan geologi diperlukan anomali sisa yang diperoleh dari pemisahan

anomali Bouguer menjadi anomali regional dan anomali sisa, dengan metode kontinuasi

keatas, sehingga diperoleh nilai anomali regional dan anomali sisa. Anomali hasil dari

reduksi bidang datar masih merupakan campuran anomali regional dan anomali sisa,

sehingga perlu dilakukan proses selanjutnya untuk memisahkan kedua anomali tersebut

yaitu proses kontinuasi ke atas. Di bawah ini adalah gambar anomli Bouger lengkap yang

telah dikontinuasi sehingga mendapatkan kontur anomali sisa dan regional seperti pada

Gambar 4 dan Gambar 5.

Gambar 3.Kontur Anomali Bouger Lengkap Setelah Direduksi





Jurnal Neutrino Vol. 6, No. 1 Oktober 2013 35

Gambar 4. Penggambaran Kontur Anomali Sisa Orde Tiga

Gambar 5. Kontur Anomali Regional Orde Tiga

Interpretasi Kuantitatif

Interpretasi kuantitatif dilakukan dengan menganalisis penampang pola anomali sisa

sepanjang lintasan tertentu. Pada penelitian ini dibuat tiga penampang anomali yaitu

penampang A-A’, penampang B-B’ dan penampang C-C’. Langkah awal pemodelan

adalah dengan mencoba berbagai kemungkinan model geologi bawah permukaan,

penggunaan rapat massa penyusun daerah penelitian pada setiap lapisan dari model geologi

yang dihasilkan ditentukan berdasarkan perkiraan model geologi (hasil interpretasi),

ditunjang dengan rapat massa Telford dan rapat massa dari literatur lain. Interpretasi

geologi secara kuantitatif dilakukan berdasarkan pemodelan sepanjang penampang anomali

tertentu, sehingga dapat ditafsirkan geometri dari benda-benda geologi bawah permukaan

yang menjadi penyebab timbulnya anomali. Pada penelitian ini pemodelan geologi

dilakukan dengan bantuan software tertentu. Data masukan pada software ini berupa nilai

jarak lintasan (dalam meter) dan nilai anomalinya, bentuk model tersebut tergambar

sebagai anomali observasi sedangankan penampang hasil pemodelan geologi digambarkan

sebagai anomali hitungan. Pemodelan ini dilakukan dengan metode trial dan error sehingga

dalam pengerjaannya harus diiterasi sampai didapatkan ralat (error) terkecil.

Anomali Bouger penampang A-A’, penampang B-B’ dan penampang C-C’ diambil

berdasarkan hasil penafsiran kualitatif pola kontur anomali, dimana pada penampang A-A’,





36 Jurnal Neutrino Vol. 6, No. 1 Oktober 2013

B-B’ dan C-C’ memotong tinggian dan rendahan serta rapatan dan renggangan dengan

nilai tertinggi 60 mGal dan terendah adalah -120 mGal. Lintasan pemodelan anomali sisa

ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Kontur Penampang Anomali Sisa

Di bawah ini adalah hasil pemodelan penampang A-A’, penampang B-B’ dan

penampang C-C’ seperti yang terlihat pada Gambar 7, Gambar 8 dan Gambar 9.

Gambar 7. Pemodelan 2D Penampang A-A’

Gambar 8. Pemodelan 2D Penampang B-B’





Jurnal Neutrino Vol. 6, No. 1 Oktober 2013 37

Gambar 9. Pemodelan 2D Penampang C-C’

Ketiga penampang hasil pemodelan 2D di atas dapat diketahui nilai densitasnya yaitu

sebgai berikut: untuk penampang A-A’ nilai densitasnya adalah ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.80

gr/cm3 , ρ3=2.67 gr/cm3, dan ρ4=2.69 gr/cm3, sedangkan untuk penampang B-B’ nilai

densitasnya adalah ρ1=2.58 gr/cm3, ρ2=2.82 gr/cm3, ρ3=2.67 gr/cm3, dan untuk penampang

C-C’ nilai densitasnya yaitu ρ1=2.585 gr/cm3, ρ2=2.82 gr/cm3, ρ3=2.67 gr/cm3 dan ρ4=2.684

gr/cm3.

Pada ketiga penampang tersebut terlihat bahwa nilai densitas ρ1< ρ2< ρ3, sehingga

nilai densitas paling rendah ditunjukkan oleh batuan ρ1 yang berwarna biru dengan nilai

densitas sebesar 2.58 gr/cm3. Sesuai dengan hasil penelitian [4] bahwa batuan yang

memiliki densitas rendah memiliki nilai porositas tinggi. Jika porositas dihubungkan

dengan permeabilitas, maka permeablitas berbanding lurus dengan porositas. Hal ini

berarti jika porositasnya tinggi maka permeabilitasnya juga tinggi [2] dan [7]. [10]

menurunkan rumus dari hukum Darcy bahwa porositas berbanding lurus dengan

permeabilitas. Sesuai dengan yang dinyatakan oleh [5] bahwa batuan yang mendomonasi

reservoir panasbumi yaitu batuan dengan densitas rendah dan porositas tinggi serta tingkat

permeabilitasnya tinggi.

Perubahan suhu reservoir panasbumi per kilometer yaitu sebesar 30oC [8]. Reservoir

panasbumi berdasarkan hasil penelitian berada pada kedalaman kurang lebih 2 km

sehingga kalau mengacu pada hasil penelitian [1] yang menyatakan bahwa suhu

permukaan air panas yang terletak di Desa Blawan adalah 34-48oC sehingga dapat

dikatakan bahwa dari hasil penelitian daerah Blawan-Ijen berdasarkan data gravity

memiliki suhu reservoir sebesar 94-108 oC.

Sedangkan batuan ρ4 dengan densitas 2.69 gr/cm3 pada penampang A-A’ dan

penampang C-C’ diinterpretasikan sebagai intrusi. Intrusi merupakan suatu proses yang

terjadi akibat adanya aktifitas magma yang berada di bawah permukaan bumi yang

diakibatkan adanya tekanan dan temperatur yang sangat tinggi dari dalam bumi.

Di bawah ini adalah gambar penampang 3D seperti yang terlihat pada Gambar 10

berikut.





38 Jurnal Neutrino Vol. 6, No. 1 Oktober 2013

Gambar 10. Pemodelan 3D

Gambar di atas merupakan pemodelan 3D yaitu gabungan antara penampang A-A’,

B-B’ dan penampang C-C’ dengan volume ρ1 yang diidentifikasi sebagai reservoir

panasbumi sebesar 101.20 juta m3. Reservoir panasbumi didominasi oleh batuan ρ1. Hal ini

sesuai dengan hasil pemodelan 2D yang merupakan batuan ρ1 memiliki nilai densitas lebih

rendah.

KESIMPULAN

Dapat diketahui dari hasil pengolahan data, pemodelan 2D dan 3D serta analisis

anomali Bouger di daerah Blawan-Ijen dapat disimpulkan bahwa dari ketiga penampang

tersebut terlihat nilai densitas paling rendah ditunjukkan oleh batuan ρ1 yang berwarna biru

dengan nilai densitas sebesar 2.58 gr/cm3 yang merupakan reservoir panasbumi dengan

porositas tinggi dan tingkat permeabilitas tinggi dengan volume sebesar 101.20 juta m3.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Afandi, A. 2013. Identifikasi Reservoar Panasbumi Dengan Metode Geomagnetik

Darerah Blawan Kecamatan Sempol Kabupaten Bondowoso. Tesis, Jurusan Fisika.

Universitas Brawijaya Malang.

[2] Hazen, A., 1893. Some Physical Proerties Of Sands And Gravels With Special

Reference To Their Use In Filtration. Health, Boston.

[3] Hidayat, N dan Basid, A., 2011. Analisis Anomali Gravitasi Sebagai Acuan Dalam

Penentuan Struktur Geologi Bawah Permukaan Dan Potensi Geothermal, Jurnal

Neutrino, Vol. 4, No. 1.

[4] Sanny, T. A., Handayani. G., Rizal. 2000. Pengaruh Porositas dan Saturasi Pada

Kecepatan Getaran P dan Faktor Kualitas Q. Jurnal Geofisika No2, 30-56.

[5] Santoso, D. 2002. Pengantar Geofisika. Institut Teknologi Bandung: Bandung.

[6] Setyaningsih, W, 2011. Potensi Lapangan Panasbumi Gedongsongo Sebagai Sumber

Energi Alternatif, Jurnal Geografi, Vol. 8, No. 1.





Jurnal Neutrino Vol. 6, No. 1 Oktober 2013 39

[7] Slichter, C. S., 1992. Theoretical investigation of the motion of Ground Waters, U. S.

Geological Survey Water Supply Paper 67, Washington, D. C.

[8] Suparno, S., 2009. A Present From The Heart Of The Earth, FMIPA-UI, Jakarta.

[9] Telford, W.M., Geldart, L.P., Sheriff, R.E., Keys, D.A. 1976. Applied Geophysics.

Cambridge University Press. New York.

[10] Todd, D K., 1959. Ground Water Hydrology. Toppan Company, Ltd., Tokyo.

[11] Utama, A. P., A. Dwinanto, M. Hikmi, R. Irsamukhti, and Situmorang, 2012. Green

Field Geothermal Systems in Java, Indonesia. Proceedings, Geothermal Workshop.

InstitutTeknologi Bandung. Bandung, Indonesia.

[12] Wardana, D. 2008. Penelitian Gayaberat di Daerah Perbatasan Cekungan Bogor dan

Cekungan jawa Barat Utara. Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI. Bandung.




  • A research using magnetotelluric method have been done in Blawan geothermal field, Bondowoso, East Java. This research done to identify the geothermal system of research area based on its resistivity value. Magnetotelluric measurement done in 19 point with spaces 250 m up to 1200 m each other. The tools used in this research is Metronix ADU-07e that measure three components of the magnetic field (𝐻𝑥, 𝐻𝑦 dan 𝐻𝑧 ) and two components of the electric field (𝐸𝑥 dan 𝐸𝑦). Data obtained in the form of an apparent resistivity and phase value in the frequency domain in the range of 0,01 Hz to 10.000 Hz. All of measurement points are divided into four 2D modeling profile. The results of 2D modeling indicate that the geothermal system in the research area consists of caprock zone (≤32 Ω.m), reservoir zone (>32 Ω.m - ≤512 Ω.m), and a heat source zone (>512 Ω.m). Beside that, based on the modeling result it also identified the presence of several faults that support Blawan geothermal system.

  • Gravity survey has been acquired by Gravimeter Lacoste & Romberg G-1035 at Blawan-Ijen geothermal area. It was a focusing study from previous research. The residual Bouguer anomaly data was obtain after applying gravity data reduction, reduction to horizontal plane, and upward continuation. Result of Bouguer anomaly interpretation shows occurrence of new faults and their relative movement. Blawan fault (F1), F2, F3, and F6 are normal fault. Blawan fault is main fault controlling hot springs at Blawan-Ijen geothermal area. F4 and F5 are oblique fault and forming a graben at Banyupahit River. F7 is reverse fault. Subsurface model shows that Blawan-Ijen geothermal area was dominated by the Ijen caldera forming ignimbrite (ρ1=2.670 g/cm3), embedded shale and sand (ρ2=2.644 g/cm3) as Blawan lake sediments, magma intrusion (ρ3=2.814 g/cm3 & ρ7=2.821 g/cm3), andesite rock (ρ4=2.448 g/cm3) as geothermal reservoir, pyroclastic air fall deposits (ρ5=2.613 g/cm3) from Mt. Blau, and lava flow (ρ6=2.890 g/cm3).

    • Some Physical Proerties Of Sands And Gravels With Special Reference To Their Use In Filtration

      Hazen, A., 1893. Some Physical Proerties Of Sands And Gravels With Special
      Reference To Their Use In Filtration. Health, Boston.

    • Potensi Lapangan Panasbumi Gedongsongo Sebagai Sumber Energi Alternatif

      Setyaningsih, W, 2011. Potensi Lapangan Panasbumi Gedongsongo Sebagai Sumber
      Energi Alternatif, Jurnal Geografi, Vol. 8, No. 1.

    • Theoretical investigation of the motion of Ground Waters, U. S. Geological Survey Water Supply Paper 67

      Slichter, C. S., 1992. Theoretical investigation of the motion of Ground Waters, U. S.
      Geological Survey Water Supply Paper 67, Washington, D. C.

    • A Present From The Heart Of The Earth

      Suparno, S., 2009. A Present From The Heart Of The Earth, FMIPA-UI, Jakarta.

    • Todd, D K., 1959. Ground Water Hydrology. Toppan Company, Ltd., Tokyo.

    • Penelitian Gayaberat di Daerah Perbatasan Cekungan Bogor dan Cekungan jawa Barat Utara. Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI

      Wardana, D. 2008. Penelitian Gayaberat di Daerah Perbatasan Cekungan Bogor dan
      Cekungan jawa Barat Utara. Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI. Bandung.

    • Telah dilakukan penelitian dengan metode gravitasi pada tanggal 26 - 27 April 2011 di daerah Songgoriti Kota Batu dengan tujuan untuk mengetahui pola anomali Bouguer dan struktur geologi bawah permukaan serta potensi panasbumi di daerah tersebut. Berdasarkan interpretasi kualitatif pada kontur anomali Bouguer lengkap didapatkan variasi nilai anomali Bouguer antara 47,3 - 67,4 mGal dengan nilai anomali tinggi terdapat pada arah tenggara penelitian dan nilai anomali sedang pada arah tenggara-selatan dan timur laut daerah penelitian. Hampir 75% daerah penelitian didominasi oleh nilai anomali Bouguer rendah. Hasil interpretasi kuantitatif pada model penampang 2D lintasan AB dan CD, didapatkan tujuh lapisan batuan di bawah permukaan yaitu lapisan lapuk, tufa pasiran, anglomerat, lempung pasir, breksi tufaan terlempungkan, lava, dan breksi Vulkanik. Berdasarkan interpretasi kualitatif dan kuantitatif serta penelitian sebelumya dapat disimpulkan bahwa potensi geothermal di daerah penelitian sangat kecil.


    Source

No comments:

Post a Comment